Rabu, 17 Maret 2010

Aristocrate Glam Dalam Busana Kebaya




KOMPAS.com - Rumah Kebaya Amy Atmanto, Royal Sulam, mengeluarkan koleksi kebaya terbaru yang diberi nama The Aristocrate Glam. Koleksi ini dipamerkan dalam fashion show yang merupakan salah satu sesi dalam Bazaar Wedding Exhibition 2010 di Four Seasons Hotel, Jakarta, Minggu (14/3/2010) lalu.

Amy Atmanto, yang telah dikenal sebagai brand ambassador Swarovski, terinspirasi desain kebaya tradisional. Menurutnya, seorang calon pengantin harus tampil agung, jaya, dan glamorous. Namun meskipun ingin menampilkan kesan yang glamorous, Amy tidak mendesain kebaya dengan terlalu banyak detail.

''Kesederhanaan atau simplicity dengan cahaya yang luar biasa akan memancarkan aura kecantikan alami,'' ujarnya kepada Kompas Female, usai pagelaran busana.

Desain kebaya ia tampilkan juga sesuai kepribadian perempuan Indonesia. Baju-baju adat Jawa, Sunda, dan Betawi tampak cukup menginspirasi koleksinya kali ini. Adat Jawa, misalnya, ia transformasikan dalam bentuk baju adat yang biasa dipakai ratu atau putri dalam cerita adat dan keraton.

''She's the queen, her majesty, jadi ia tidak perlu tampil terlalu mewah, tapi tetap bling dan mengesankan kesederhanaan. Ciri khas ratu,'' katanya.

Untuk pemilihan bahan ia memilih beludru, sutra, lace, dan sutra organdi. Sementara itu, payet menggunakan kristal Swarovski yang masih diimpor. Untuk padanan kebaya, Amy menggunakan kain batik Jawa -terutama dari Brebes- dengan motif ukel.

Amy mengaku tidak mematok harga khusus. Baginya setiap rancangan kebaya bisa disesuaikan dengan kebutuhan calon pengantin. ''Semua tergantung material, kesulitan pengerjaan, dan berapa banyak kristal yang diperlukan,'' imbuh perempuan yang pernah merancang kebaya untuk Miss Universe itu.

Satu yang pasti, hingga saat ini Amy tetap mempertahankan kebaya yang klasik, elegan, dan glamorous. Ia juga menampilkan desain kebaya untuk wanita berkerudung. Kebaya ini mengikuti syar'i, alias menutup aurat namun tetap glamour.


C2-10
Editor: din
kompas.com

Senin, 15 Maret 2010

Harajuku Style... Unik dan Eksotik


DALAM urusan mode, Jepang punya banyak keunggulan. Masyarakat Jepang pintar tampil menarik dengan gaya busana yang tak lazim.

Salah satu gaya paling terkenal yang diusung Jepang adalah gaya harajuku, yang mengusung konsep padu padan busana dengan warna berbeda. Kini, mode harajuku telah populer seantero dunia. Bahkan, selebriti Hollywood seperti penyanyi pop, Gwen Stefani (mantan vokalis No Doubt), senantiasa tampil menarik dengan gaya harajuku ketika di atas panggung.

Gaya harajuku tidak sama dengan gaya kawaii yang terlihat cute, atau gothic lolita dan cosplay, yang mengusung desain dengan karakter anime dan manga, tokoh kartun Jepang di film dan komik favorit. Demikian yang okezone kutip dari Carefair, Senin (15/3/2010).

Walaupun tidak ada aturan ketat, namun Anda tetap harus mengetahui rumus berpakaian ala harajuku. Yaitu busana yang dipakai berlapis-lapis, penggunaan warna material bahan yang berbeda (tabrak warna) dan cerah, hiasan aksesori yang berlebih pada tas, ikat kepala, dan anting-anting mewah. Selain itu, rambut kepang dengan ekor kuda runcing juga menjadi kata kunci untuk tampil bergaya harajuku.

Kendati gaya harajuku begitu populer, namun dalam kehidupan sehari-hari wanita Jepang senang mengenakan busana dengan desain modern. Bahkan, sebagian dari mereka juga lebih nyaman memakai pakaian olahraga.

Namun sekali lagi, wanita Jepang menyukai busana olahraga dengan warna cerah. Mereka percaya, busana cerah bisa mencuri perhatian banyak orang. Dan untuk membuat mereka berkesan tinggi, maka sepatu model platform atau boot menjadi pilihan aksesori terbaik.

Selain pakaian, wanita-wanita Jepang juga sangat perhatian dengan dunia kecantikan. Tak heran mereka rela menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan produk-produk kecantikan terbaik. Eyeshadow menjadi salah satu kosmetik paling populer bagi wanita Jepang, khususnya di kalangan remaja.
(tty)
sumber : okezone.com

Kamis, 11 Maret 2010

Sampaikan Pesan Lewat Warna Bibir


HATI-HATI memilih lipstik. Kesalahan dalam memilih bisa merusak penampilan.

Menurut pakar rambut dan make up Chenny Han, ketepatan memilih warna lipstik akan membuat sempurna riasan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah pilih warna yang dapat memberi aksen pada bibir.

”Agar bisa memberi aksen pada bibir, warna lipstik sebaiknya bertentangan kontras dengan warna kulit,” kata Chenny, seperti diulas dalam bukunya berjudul ”Make-up Bibir Sesuai Aura dan Feng Shui”.

Chenny menjelaskan, formula utama yang terdapat pada lipstik adalah pigmen yang membuatnya berwarna. Dalam lipstik terkandung juga minyak yang berfungsi untuk melembapkan dan meratakan warna. Selain itu, terdapat pula lilin (wax) untuk menjaga bentuknya agar tetap padat.

”Perbandingan ketiga unsur itu berbeda pada setiap merek. Semakin banyak pigmen, semakin mudah bibir menjadi kering,” jelasnya.

Chenny menambahkan, warna bibir menyampaikan pesan. Tak heran, pilihan warna lipstik biasanya bergantung pada beberapa hal, termasuk warna busana yang dikenakan.

”Warna lipstik sebaiknya melengkapi busana, bukan saling bertabrakan. Selain itu, jenis acara dan gaya busana, seperti kasual dan formal, ikut juga menentukan pilihan warna lipstik. Untuk busana kasual warna lipstik yang sesuai biasanya bernuansa natural. Warna gelap, seperti merah marun, lebih disukai untuk acara pesta atau resmi,” paparnya.

Chenny juga menyarankan, untuk siang hari, gunakan lipstik dengan warna-warna natural, segar, dan lebih terang, seperti warna pastel dengan jenis matte atau creamy. Sementara untuk malam, pilih warna lebih gelap dan menantang dengan jenis glossy atau sedikit tambahan kerlap-kerlip glitter.
(tty)

sumber: Okezone.com

Selasa, 09 Maret 2010

Usia Matang Masih Bisa Tetap Gaya




KOMPAS.com — Dunia anak muda selalu ditonjolkan dalam berbagai sorotan media atau industri hiburan. Akibatnya, sejumlah perempuan di atas usia 40 menjadi merasa tak lagi seksi dan akhirnya merasa ditinggalkan.

Meski begitu, ada juga sejumlah perempuan yang terlihat jauh lebih muda dari usia mereka. Sebut saja sederet artis yang masih terlihat gaya dan seksi, seperti Elizabeth Hurley, Kylie Minogue, Sandra Bullock, atau Elle McPherson. Jika di Indonesia, sosok seperti Widyawati atau Christy Subono menjadi referensi perempuan yang tampil gaya dan anggun di usia yang tak lagi muda.

Apabila Anda berharap kelak masih dapat tampil segar dan menarik di usia 40-an, ada baiknya Anda mulai menjaga kesehatan dan merawat diri sejak sekarang. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

Olahraga dan menjaga bentuk tubuh
Untuk menjaga tubuh tetap bugar, Anda tak harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk berolahraga. Lakukan saja peregangan sekitar 20 menit. Angkat beban dengan level ringan, olahraga ringan seperti sit up, atau gerakan lain yang bisa dilakukan di lantai rumah Anda. Lakukan aktivitas sehat ini tiga kali seminggu. Dan, jangan melakukannya sebagai obsesi untuk terlihat lebih muda, tetapi sebagai kebutuhan dan gaya hidup.

Menjaga kesehatan kulit secara alami dan realistis
Memiliki usia matang bukan berarti menjadi tua dan tak lagi punya daya tarik. Untuk menjaga daya tarik, menjaga kesehatan kulit menjadi penting. Aktris senior Joan Collins mengatakan, kosmetik bukan semata-mata solusi bagi kaum hawa untuk tampil menarik di usia matang. Collins menegaskan, kecanduan pada produk kecantikan, seperti antiaging cream, tak lantas menjawab persoalan. Menurut dia, kecenderungan iklan produk ini justru ”menipu” karena tentu saja foto wanita cantik penuh dengan re-touch. Mana mungkin wanita berumur bisa mengubah kulitnya dalam sekian menit untuk tampil seperti usia 20-an?

Kebiasaan merawat kulit dan tubuh sejak dini lebih menjawab bagaimana membuat kulit tetap sehat dan cantik pada usia matang. Inilah yang dilakukan mantan bintang serial Dynasty ini. Ia menggunakan produk yang sederhana, seperti krim dingin, baby oil, lotion, air mawar, dan beberapa produk perawatan kulit yang dijual di toko farmasi dengan harga yang tak terlampau mahal.

Memiliki ”mindset” bahwa panjang usia adalah keberuntungan
Saat ini, menurut Collins, perempuan pada usia 50 tahun ke atas masih bisa terlihat seperti usia 35 tahun. Kekuatan berpikir dan menghargai diri saat usia biologis tak lagi muda menjadi kunci tetap sehat dan menarik. Dengan terus mengoptimalisasi fungsi otak, dengan berbagai aktivitas tentunya, tubuh dan pikiran dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Ketajaman berpikir pun juga dimiliki para perempuan berumur.

Tak sekadar menutupi kerutan dengan ”make up”
Jika ingin mencontoh cara Collins merawat wajahnya, gunakan pelembab dan alas bedak secara rutin. Fungsinya melindungi kulit lebih efektif daripada krim wajah lain. Gunakan topi atau pelindung lain agar wajah tak langsung terkena sinar matahari. Bagaimanapun, radiasi ultraviolet memberikan efek berbahaya terhadap wajah. Rajin dan rutin menggunakan pelembab dan alas bedak bisa menjadi cara jitu merawat kulit tetap cantik dan sehat.

Hanya konsumsi makanan sehat
Membiasakan diri untuk menghindari makanan manis dan menggantinya dengan sayuran menjadi kunci kesehatan paling jitu. Tak hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk kulit dan kecantikan. Gaya hidup menjadi faktor lain yang memengaruhi penuaan. Merokok salah satunya. Jadi, mulailah berhenti merokok sebelum terlambat.

Faktor alam, seperti polusi, AC, panas matahari, dan berbagai zat kimia yang masuk melalui makanan dan minuman, juga memengaruhi penuaan. Hindari makanan cepat saji dan mulai konsumsi minyak ikan. Pola hidup yang lebih sehat bisa menjadi pencegahan yang lebih tepat dan murah daripada membeli produk kecantikan, seperti antikerut atau antiselulit yang bisa menguras dompet, kata Collins.

Belum terlambat untuk meniru cara Joan Collins. Bukankah pencegahan menjadi investasi kecantikan yang jauh lebih efektif?

C1-10
Editor: din
Sumber: dailymail.co.uk

Kamis, 04 Maret 2010

Cerahkan Kulit Wajah Dalam Sekejap

TAK ada perempuan yang kulit wajahnya berbelang dan kusam. Pasti semuanya ingin kulit wajahnya cerah dan kencang. Putih dan bersih. Masalahnya, tidak semua perempuan tahu bagaimana membuat kulit wajahnya cerah, putih, dan bersih.

Ada beberapa perempuan yang menggunakan kosmetik untuk membuat wajahnya semakin terlihat cantik dan putih. “Tapi jika salah menggunakan kosmetik, justru akan terlihat seperti topeng,” kata dr Riska Melanie dari CBC Beauty Care.

Selain dengan kosmetik, ada perempuan juga yang memilih facial. Facial berguna untuk mengangkat sel-sel kulit mati dan mencerahkan wajah. Pada titik ini facial lebih baik daripada mencuci wajah dengan facial foam atau cleanser milk. “Pembersihan wajah dengan facial lebih efektif atau lebih dalam jika dibandingkan dengan mencuci muka saja,” jelas dr Riska.

Salah satu teknik facial untuk membantu mencerahkan kulit wajah adalah dengan teknik electroporation.

“Electroporation adalah media yang dapat membantu untuk masuknya serum ke dalam kulit,” kata dr Riska.

Seperti diketahui, kulit terdiri atas tiga lapisan yaitu epidermis, dermis, dan subkutis. Di dalam lapisan kulit itu juga terdapat layer. “Masing-masing lapisan terdiri dari sekitar 7 layer kulit,” imbuhnya. Jika dengan perawatan facial biasa, serum yang dioleskan pada kulit hanya akan masuk ke dalam dua layer kulit epidermis. Jika dengan electroporation, serum akan masuk ke dalam 3-4 lapisan layer kulit epidermis. “Ini akan membuat efek cerah dan kencang pada kulit wajah dengan cepat,” lanjut dr Riska.

Ada beberapa langkah dalam perawatan dengan electroporation ini, yaitu:
1. Bersihkan wajah dengan milk cleanser untuk mengangkat sisa-sisa kotoran yang masih menempel pada wajah.
2. Setelah itu, wajah dibersihkan dengan facial wash.
3. Kemudian, wajah dibersihkan dengan green tea scrub. Green tea scrub mengangkat sel kulit mati yang tertinggal, terutama pada daerah T atau T-Zone (hidung, dagu, dan dahi).
4. Lalu dilakukan penguapan dengan pavozon untuk membuka pori-pori pada wajah.
5. Selanjutnya adalah vacum pada wajah untuk mengeluarkan komedo. Setelah itu, dilakukan ekstraksi manual untuk mengangkat komedo yang membandel.
6. Setelah ekstraksi, biasanya kulit akan memerah. Karena itu, atasi atau kurangi dengan mesin high frequency dan lotion khusus untuk mengurangi kemerahan dan iritasi pada kulit.
7. Kemudian wajah diberikan serum dengan alat electroporation.
8. Tahap berikutnya adalah menggunakan masker selama kurang lebih 15-20 menit. Setelah itu, wajah dibersihkan dengan air dan diberikan toner dan day cream.

Dengan electroporation, wajah memang terlihat lebih putih. Yang perlu diperhatikan kemudian adalah perawatan setelah facial. “Setelah facial, kita juga tetap harus memerhatikan dan menjaga kulit wajah. Kalau kita tidak bisa menjaganya, yang ada kulit kita akan kembali seperti semula. Kembali hitam,” tandas dr Riska.

Tip Menjaga Kecantikan Kulit Wajah
- Hindari pancaran sinar matahari mulai pukul 09.00-16.00 WIB. Pada jam-jam itu, sinar matahari mengandung UV A dan UV B yang dapat membuat kulit semakin gelap.

- Selalu gunakan kosmetik atau tabir surya dengan SPF 15 yang mengandung titanium dioksida, zinc oksida dan avobenzon untuk melindungi warna kulit dari sengatan sinar matahari.

- Rajin membersihkan kulit dan membuang sel-sel kulit yang mati dengan scrub atau peeling akan memperbaiki sirkulasi dalam darah.

- Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A seperti wortel, bayam, brokoli dan alpukat. Kulit menjadi elastis dan lentur serta tidak mudah kering.

- Banyak mengonsumsi kulit yang mengandung vitamin C untuk membantu kulit membentuk kolagen agar kulit tetap kencang. Makanan yang banyak mengandung vitamin C adalah jeruk dan strawberry.

(Genie/Genie/tty)
sumber : okezone.com

Hand Bag, Simbol Fashionista

TAS tangan, bagi wanita bukan lagi sekadar wadah penyimpan barang, melainkan simbol status. Dalam sebuah acara sosial, status seseorang bisa ditentukan dari tas tangan yang ditentengnya.

Diana, 35, sudah siap berangkat. Dandanannya tanpa cela, rambut hitam berombak mengkilat menjadi bingkai sempurna untuk wajahnya yang ditata natural. Tubuh rampingnya berbalut gaun cantik dengan motif floral, tren terkini, dan kakinya dibungkus sepatu platform berlabel Jimmy Choo, serasi dengan tas tangan hitam yang disandangnya.

Untuk Diana, membeli tas tangan seharga USD328 atau setara dengan Rp3.053.680 bukanlah masalah. Baginya, status sosial yang menyertai brand tas yang melengkapi penampilannya, sepadan dengan harga yang harus dikeluarkan.

Di Jakarta, banyak wanita yang berpikir seperti Diana. Karenanya, tidak heran bila setiap musimnya, tas-tas brandedmulai Guess hingga Gucci tak pernah sepi konsumen.
Bahkan, bag bar yang menjadi pemandangan utama di butik Louis Vuitton merupakan jujugan fashionista saat koleksi baru tiba. ”Koleksi monogram merupakan favorit karena klasik,” cerita Public Relation Louis Vuitton Cecilia King. ”Tapi koleksi yang lebih kontemporer juga tak jarang menjadi pilihan,” sambungnya.

”Saya bukan fashionista,” ujar Diana, yang bekerja di salah satu perusahaan swasta. ”Tapi saya memang menyukai tas. Dan bagi saya, tas bermerek sepadan dengan kualitas dan image yang ditampilkannya,” sambungnya.

Berbicara mengenai image, Diana mengungkapkan bahwa dirinya memang kolektor Jimmy Choo, namun di lemarinya, wanita berputri satu ini mengakui memiliki beberapa tas yang dianggapnya ”sakral”.
”Saya punya clutch vintage dari Valentino juga Kelly Bag dari Hermes. Dua tas itu hanya saya pakai untuk acara istimewa. Untuk sehari-hari, biasanya saya pakai Jimmy Choo, Kate Spade, atau Anya Hindmarch,” ujar wanita yang mengaku memuja Jimmy Choo untuk urusan sepatu ini.

Tas tangan yang termasuk dalam lini fashion accessories, statusnya kini lebih menonjol dibandingkan busana. Dalam sebuah acara sosial, tas tangan serta sepatulah yang pertama kali ”dilirik” sesama fashionista. ”Tas adalah pernyataan fashion, itulah tren yang sekarang terjadi di dunia fashion. Walaupun secara alami perempuan memang membutuhkan tas tangan dengan atau tanpa tren yang berlaku,” sebut Pauline Westin Thomas, pengasuh situs mode www.fashion-era.com.

Seperti juga sepatu, tas tangan menjadi fashion statement yang tidak bisa dikesampingkan. Alasan itu yang menjadikan Marc Jacobs begitu serius menggarap lini aksesori untuk tiga label yang ditanganinya, Louis Vuitton, Marc Jacobs, dan Marc by Marc Jacobs. Bukan hanya Jacobs, Frida Giannini dari Gucci juga tidak ketinggalan ”memoles” koleksi aksesorinya, termasuk tas tangan dan sepatu yang selalu terlihat menonjol di atas runway.

”Pasar menginginkan tas dan sepatu yang memberi pernyataan dan para desainer memenuhi kebutuhan itu,” sebut Thomas. Dia juga menyatakan, di era ini tas tangan adalah roda pemutar pundi-pundi rumah mode serta label fashion, selain parfum.
Brand-brand papan atas dunia seperti Hermes, Christian Dior, Prada, Chanel, Fendi, Gucci, Louis Vuitton, berlomba-lomba menghadirkan ”the it bag”, bersaing dengan brand yang memang berjalan di jalur aksesori dan leather product layaknya Bottega Veneta, Loewe, Kate Spade, Jimmy Choo, atau Anya Hindmarch.

Hermes punya Kelly dan Birkin, dua tas tangan ikonik dengan daftar pemesanan panjang. Marc Jacobs selalu sukses dengan koleksi tas tangan bergaya muda yang laris manis setiap musim, sementara Bottega Veneta tidak pernah gagal menjual produk kulit berdetail anyam yang menjadi ciri khasnya.
Anya Hindmarch pernah memimpin pasar dengan tas sederhana bertuliskan ”I’m Not A Plastic Bag”, sementara Kate Spade menarik konsumen melalui desainnya yang catchy dengan warna-warna cerah.

Tapi tentu saja, berbicara tas branded berarti membicarakan uang dalam jumlah banyak. Jika Jimmy Choo menjual koleksinya dengan rata-rata USD300, maka Hermes bisa menjual Birkin dengan harga USD6.000 untuk ukuran yang paling kecil dan bisa mencapai harga USD30.000-an, tergantung pada ukuran dan materialnya.

Banjir KW1

Jika harga menjadi masalah untuk kantong Anda, kini tersedia banyak ”replika” tas branded dengan harga miring yang kerap disebut KW1 (kualitas nomor satu) oleh para penjual di ITC maupun Mangga Dua.

”Kami hanya menjual yang KW1, makanya harganya lumayan,” ujar Melina, pemilik butik tas di Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Menurut Melina, harga tas branded dengan kualitas yang mendekati asli bisa mendekati Rp1 juta–2 juta. ”Tergantung bahan dan modelnya. Kalau untuk model klasik harganya bisa sampai 2 jutaan malah lebih, soalnya bahannya mahal,” sebut wanita yang mengambil koleksinya dari Singapura juga Thailand ini. ”Kalau ambil barang lokal, kualitasnya jelek,” paparnya.

Namun, jika yang Anda inginkan hanya menenteng tas ”bermerek”, tanpa peduli kualitasnya, harga tidak akan menjadi masalah. Tas-tas ”aspal” dengan monogram Louis Vuitton atau Gucci banyak beredar di pasaran dengan harga Rp100.000–Rp200.000 saja, malah jika beruntung, bisa kurang dari itu.

Di luar negeri, plagiarisme merupakan tindakan yang sangat ditentang pelaku mode. Asosiasi fashion pun mengajukan permintaan pada pemerintah untuk adanya Undang-Undang Perlindungan Hak Cipta. Namun di Indonesia, hal itu tampaknya tidak menjadi masalah besar, malah ”diterima” dengan wajar oleh para konsumen.

”Kalau enggak beli yang KW, mana mungkin bisa punya tas branded,” cetus Andina, 24, yang menenteng tas tangan bermotif floral besutan Anna Sui.

Di satu sisi, menenteng Amazona klasik dari Loewe atau mini monogram Louis Vuitton memang memberi Anda status sosial tersendiri sebagai fashionista, namun jika ternyata ”aspal”, status itu bisa turun dalam sekejap. Untuk itu, ada satu peraturan yang bisa Anda ikuti, pilihlah tas tangan yang sesuai budget dan selera. Bila Louis Vuitton tidak sesuai kantong Anda, pilihlah tas tangan dari desainer lokal yang lebih ”ramah” untuk dompet tanpa harus mendukung plagiarisme.
(Koran SI/Koran SI/tty)

Selasa, 02 Maret 2010

Fashion Paris Semakin Rapuh

SEBAGAI fashion capital, Paris memiliki nama yang besar. Bagaimana tidak dengan segala glitz dan glamor yang membungkus kota tersebut, Paris adalah surga fashion, di mana para desainer papan atas berkumpul, fashion show eksklusif dipertunjukkan, dan rumah mode mewah berbaris elegan. Namun, resesi rupanya memberi pukulan berat bagi kota mode raksasa itu. Rumah mode yang dibangun dengan tradisi, kini harus menggenjot penjualan untuk mempertahankan volume produksi, malah banyak pelaku mode yang harus gulung tikar atau meminta bantuan pemerintah agar terhindar dari kebangkrutan.

Melihat fenomena tersebut, pemerintah Paris pun mengambil tindakan. Perdana Menteri Prancis Francois Fillon memanggil stafnya dan mengadakan rapat untuk mendiskusikan bantuan bagi para pelaku mode. ”Kenyataan yang harus kami hadapi sekarang adalah bahwa sektor industri fashion Paris semakin rapuh,” ujar Fillon dalam wawancara bersama Wall Street Journal. ”Banyak pelaku mode yang bermasalah dengan pajak serta perlindungan hak cipta, karena daya beli konsumen yang menurun secara global,” sambungnya.

Dari data yang dikeluarkan Badan Statistik Nasional Prancis, saat ini Paris menjadi tuan rumah dari 115 rumah mode. Angka tersebut jauh menyusut dari 468 rumah mode pada 2000. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap penurunan kesempatan kerja, yang mengakibatkan banyak pelaku mode Paris kehilangan pekerjaan. Analisis statistik menyebutkan bahwa pekerja mode Paris turun hingga 80 persen menjadi 5.209 selama tujuh tahun terakhir. Kenyataan tersebut semakin diperparah dengan turunnya daya beli konsumen yang menyebabkan rumah mode harus mengencangkan ikat pinggang dan memotong ongkos produksi, yang juga berarti pengurangan jumlah karyawan.

”Dalam jangka panjang, fenomena ini akan menempatkan industri mode Paris dalam risiko besar,” ujar konsultan produk mewah Clarisse Reille, yang dikontrak Departemen Perindustrian Prancis untuk membantu meningkatkan kembali bisnis tekstil dan garmen yang turun 30 persen tahun ini.

Di antara kota-kota mode lainnya, Paris memang merupakan fashion destination terpopuler. Namun, hal tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap penjualan. Kini konsumen lebih memilih menu fast-fashion dibandingkan high-end fashion yang dulu menjadi jualan utama Paris. Sekarang produk ready-to-wear menjadi kontribusi utama pemasukan desainer, sementara couture fashion terpinggirkan dan hanya menjadi sebuah statement art of fashion.
(Koran SI/Koran SI/tty)

okezone.com