Rabu, 31 Maret 2010

Agnes Monica Alih Profesi Jadi Desainer?


SUKSES menjadi penyanyi terkenal tak membuat Agnes Monica puas begitu saja. Kabarnya, Agnes sudah menyusun rencana masa depan dengan menekuni profesi baru sebagai perancang busana.

Tampaknya, Agnes ingin serius menjadi perancang karena punya obsesi besar memiliki label pakaian. Hal ini diketahui lewat Twitter Agnes dengan alamat @agnezmo.

“My cloting line...is coming...very soon...,” tulis Agnes melalui Ubertwitter (semacam aplikasi Twitter di ponsel), Senin (29/3/2010), pukul 13.48 WIB.

Setelah postingan tersebut muncul, beberapa follower yang juga teman Agnes langsung menyambutnya dengan dukungan positif. Bahkan, salah satu follower ada yang menanyakan soal pilihan lini pakaian Agnes.

”Untuk sekarang belum fokus di cowok. Tapi kedepannya akan,” jelas Agnes yang berniat membuat lini pakaian wanita.

Mengenai rencana Agnes tersebut, desainer yang sering kali mendesain kostum panggung Agnes, Chenny Han sangat mendukungnya.

”Saya dukung Agnes. Sah-sah saja Agnes jadi desainer. Tinggal buat manajemen yang kuat saja,” kata Chenny Han yang dihubungi okezone melalui telepon selulernya, Selasa (30/3/2010).

Chenny sendiri pernah menjadi tempat curahan hati (curhat) Agnes terkait keinginannya menekuni dunia rancang busana. Karena itu, Chenny pun lantas memperkenalkan Agnes kepada pemilik Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjo, Susan Budihardjo.

”Setahun lalu, saya kenalkan Agnes pada Mbak Susan. Waktu itu Agnes sedang jalani pemotretan untuk cover buku saya dan lokasinya di LPTB Susan Budihardjo. Agnes cerita sama Mbak Susan ingin sekali sekolah desain. Tapi sampai kini, saya belum tahu kabar terbaru dari Agnes,” tukas Chenny Han.
(tty)
sumber : Tuty Ocktaviany - Okezone.com


berita lainnya :
• Grosir Sprei Batik Solo Paling Murah
• Fenomena Tante Girang di Internet
• Grosir Blus Batik Solo Pria dan Wanita

Senin, 29 Maret 2010

Mal, Pusat Belanja dan Kiblat Mode


BAGI kaum urban, mal tidak lagi sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan telah merasuk menjadi gaya hidup. Dan bagi fashionista, mal bukan hanya pusat belanja, tapi justru kiblat mode.

Di minggu yang sama, dua mal premium di Jakarta menggelar pekan mode. Plaza Indonesia dengan Plaza Indonesia Fashion Week, yang merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-20 mal tersebut, sementara Grand Indonesia Shopping Town berusaha menarik perhatian konsumen dengan menghelat MAP Fashion Week di department store eksklusif Harvey Nichols. Tidak hanya di dua mal tersebut, gelaran pekan mode juga berlokasi di Mal Kelapa Gading yang punya agenda tahunan Jakarta Fashion & Food Festival, dan Pacific Place sudah dua tahun berturut-turut menjadi lokasi penyelenggaraan Jakarta Fashion Week.

Barisan desainer dan brand yang dihadirkan kedua brand itu pun tidak tanggung-tanggung. Plaza Indonesia menawarkan koleksi terbaru Kenzo, Jean Paul Gaultier, Alberta Ferretti, Max Mara, Diane Von Furstenberg, Yves Saint Laurent, juga rancangan desainer Indonesia yang tergabung dalam Gaya The Designer’s Corner dan koleksi terbaru Iwan Tirta. Di Grand Indonesia, barisan brand internasional seperti halnya Loewe, Sass & Bide, Diesel, Ksubi, Givenchy, Lanvin, Milly, juga Original Penguin, tidak ketinggalan memikat konsumen.

Bukan hal yang aneh bila mal dijadikan sebagai lokasi pergelaran fashion week. Pasalnya, sebagai pusat perbelanjaan, mal memiliki ratusan fashion tenant mulai dari department store hingga butik-butik dari desainer dan rumah mode kenamaan yang menjadi jujugan para konsumen. Sehingga bisa dikatakan, mal adalah tempat dimana para produsen dan konsumen fashion berkumpul. Jadi, wajar bila mal pun berkembang menjadi kiblat mode.

Pekan mode bisa dikatakan sebagai strategi brand dan desainer untuk menjual koleksi mereka dalam sebuah event yang elegan. Mereka berharap, fashionista, pihak media, serta buyer yang hadir, tertarik menyaksikan rancangan terbaru yang kemudian bisa mendongkrak penjualan. Oleh karena itu, pekan mode menjadi sebuah media raksasa yang mempertemukan banyak pihak. Dengan bertempat di mal yang memiliki lokasi strategis, diharapkan kesuksesan akan lebih cepat tercapai.

Mal juga tidak hanya dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan pesta mode di Indonesia, Singapura pun kerap menggelar Singapore Fashion Festival di Ngee Ann City, salah satu mal besar di kawasan Orchard Road, pusat belanja Kota Singa. New York Fashion Week, kendati pun dihelat di fashion tent besar di Bryant Park, tidak melupakan mal.
Malah, pusat perbelanjaan menjadi promosi utama bagi pekan mode terbesar di Amerika itu.

Mendorong peningkatan penjualan, Council of Fashion Designers of America (CFDA) bersama dengan majalah Vogue dan pemerintah kota menggelar sebuah kegiatan promosi berskala global dipusatkan di mal serta department store mandiri, Fashion Night Out.

CEO Marketing, Tourism, & Partnership NYC & Company George Fertitta mengatakan bahwa promosi tersebut akan menjadi media pembangkit yang bagus, terutama bagi peritel dan pengusaha mode lokal yang terpukul cukup keras saat resesi. ”Fashion week tidak lagi mengenai pertunjukkan di atas catwalk, tapi juga memastikan pengunjung yang hadir melangkah masuk ke toko dan berbelanja,” paparnya.

Plaza Indonesia dan Grand Indonesia pun tentu punya pemikiran serupa, karena selain menggelar fashion show koleksi terbaru untuk musim semi dan musim panas 2010, kedua mal itu juga menawarkan diskon bagi konsumen yang ingin langsung memiliki koleksi fresh from the catwalk.

Sonia Wibisono, sosialita sekaligus dokter kecantikan, menganggap fashion week yang dihelat oleh mal-mal premium adalah suatu hal yang bagus, terutama untuk menyebarluaskan fashion kepada masyarakat.

”Dengan adanya fashion show di mal, pengunjung mal juga jadi bisa melihat koleksi-koleksi fashion terbaru karena tidak semua fashion show bersifat terbuka,” ujarnya saat ditemui di MAP Fashion Week di Grand Indonesia.

Selain itu, Sonia juga mengatakan bahwa baginya, fashion week yang dihelat pusat perbelanjaan bisa menjadi pembelajaran tersendiri.

”Ini acara yang seru, kita bisa lihat inspirasi-inspirasi baru, cara memadu-padankan busana serta warna,” pungkas wanita yang juga bertugas sebagai MC di acara tersebut.
(Koran SI/Koran SI/tty)

sumber : okezone.com

Minggu, 28 Maret 2010

Rahasia Tubuh Langsing Perempuan Jepang


Jakarta - Perempuan Jepang terkenal dengan tubuh sehat,indah dan langsing. Ingin tampil seperti mereka? Ikuti saja gaya hidupnya.

Sayuran dan buah-buahan
Orang Jepang rajin memakan sayuran dan buah-buahan. Mereka bisa memakan sampai enam porsi buah setiap harinya. Selain itu orang Jepang juga memakan sayuran di antaranya sayuran-sayuran yang menyehatkan adalah, kunis, rebung, jamur, zuchini, ketimun kecil, wortel, lobak, bawang dan sayuran hijau. Untuk menjaga kandungan nutrisi di dalam sayur tetap banyak, sayuran hanya direbus dalam beberapa menit dengan air kaldu asli (tanpa MSG). Mereka biasa mencampurnya denganf tofu atau tahu.

Kedelai
Kedelai dikonsumsi oleh orang Jepang setidaknya dua kali sehari. Penelitian menunjukkan bahwa kedelai tidak hanya melindungi dari penyakit jantung dan mencegah beberapa jenis kanker, tapi juga sebagai makanan pengganti daging dan produk susu.

Sushi
Mengkonsumsi nasi dari beras merupakan suatu keharusan bagi orang Jepang. Yang populer dengan memakan sushi. Hal ini membuat tubuh tidak kekurangan karohidrat dan sebagai sumber energi dan tidak mengandung lemak.

Ikan
Orang jepan rajin makan ikan. Biasanya dijadikan sushi atau sushimi dan sering juga dimakan mentah. Ikan merupakan sumber utama protein hewani, rendah kalori namun kaya akan mineral akan vitamin. Seperti yang terkandung dalam ikan salmon dan tuna.

Teh Hijau
Teh hijau merupakan minuman favorit orang Jepang. Teh hijau kaya akan antioksidan yang membantu dalam proses detoksifikasi selain itu teh hijau juga sebagai pembakaran lemak dalam tubuh. Mereka juga minum air mineral delapan gelas air sehari.

(kik/kee)
sumber : wolipop.com

Jumat, 26 Maret 2010

Caring Colours Cari Wanita Berbakat


COLOURS That Care, tagline yang selama ini melekat kuat di Caring Colours bukan sekadar tempelan saja. Selain konsisten merawat kulit dan membuat wanita selalu tampil cantik dan percaya diri dengan rangkaian warna kosmetik, Caring Colours sangat peduli terhadap mimpi dan keinginan konsumennya.

Pada tahun 2007 lalu, program circle of care Caring mengadakan event "Care For Your Dream", sebuah ajang yang memberikan kesempatan bagi para wanita untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Salah satu yang terpilih adalah Ruth Elke yang mendapatkan beasiswa dari Susan Budihardjo untuk menjadi desainer. Di mana 2009 lalu, dia menjadi tiga dari lulusan terbaik di Graduation Day.

Untuk mendulang sukses di tahun 2008, "Care For Your Dreams Too" kembali diadakan dengan sedikit sentuhan berbeda. Kali ini, Caring Colours mencari para wanita yang berbakat dan berpotensi untuk menjadi penyanyi, presenter, dan movie star dengan pelatihan singkat oleh Ratna Riantiarno, Carlo Saba, dan Farhan.

Sejak akhir tahun 2009 dan sampai pertengahan tahun 2010 ini, Caring Colours akan mengadakan acara "Road to Young Caring Professional Award "yang didedikasikan bagi para wanita karier muda yang aktif.

"Acara ini memberikan apresiasi bagi wanita karier. Mengapa orang-orang pekerja kaya, kita enggak ada yang kasih apresiasasi," ujar Product Manager Caring Colours Nia Suniasih saat ditemui okezone di acara roadshow "How to Improve Your PQ (Promotable Quotient) Creatively" di Terazza Blanco The Akmani Hotel Jakarta, Kamis (25/3/2010).

Senada dengan Nia, Marketing Manager Caring Colours Deby T Wibisana turut menjelaskan tujuan dari acara ini.

"Memberikan motivasi bagi para wanita profesional muda sehingga mereka bisa lebih sukses dalam hal berkarier di bidang apapun yang digeluti," jelas Deby.

Kriteria seseorang bisa bergabung di event pemilihan "Young Caring Professional Award" yang akan dilaksanakan pertengahan tahun 2010 ini adalah wanita WNI berusia antara 20-35 tahun, attractive, percaya diri, dan berwawasan luas, berkarier di segala bidang, mengirimkan tulisan mengenai achievement/perjalanan karier dalam sebuah essay maksimal satu halaman kertas A4, serta menyertakan data diri pribadi.

Caring Colours juga akan mengadakan talkshow, seminar atau training dengan topik-topik paling hangat seputar dunia karier.

Bekerja sama dengan majalah Cosmopolitan Indonesia, Caring Colours mengadakan event office to office roadshow ke empat kota sekaligus dengan membawa narasumber yang expertise di bidang karier professional.

"Mengapa kita kerja sama sama Cosmopolitan, karena kita punya visi dan misi serta target market yang hampir sama. Untuk tahun 2010 ini, Caring memang targetnya untuk wanita professional, wanita karier. Karena itu kita kolaborasi dengan Cosmopolitan," kata Nia Suniasih.

Di dalam content majalah Cosmopolitan, memang tersedia kolom khusus untuk artikel seputar karier.

"Sekitar 30 persen isi Cosmopolitan mengenai karier. Karena Cosmopolitan banyak membahas rubrik-rubrik tentang karier. Caring juga sedang membuat Young Professional Award untuk menggaet wanita karier. Cosmopolitan mencerminkan wanita karier yang modern, smart. Caring juga mencerminkan seperti itu. Itulah mengapa kita mau bekerja sama dengan Caring, karena kita sama-sama punya misi," ujar Vebrianti, Marketing Komunikasi Cosmopolitan di kesempatan yang sama.

Acara ini diadakan after office hour bagi seluruh wanita karier di empat kota berbeda yaitu Surabaya, Bandung, Jakarta, dan Medan untuk menambah ilmu di dunia karier, sekaligus memperluas networking.

Sebagai salah satu juri sekaligus pembicara, Creative Consultant Yoris Sebastian dipilih Cosmopolitan dan Caring Colours untuk memberikan materi seputar karier lewat tema “How to Improve Your PQ (Promotable Quotient) Creatively”.

"Intinya adalah untuk sharing ke mereka untuk belajar menyukai dan mencintai apa yang mereka kerjakan. Orang kalau selama ini mengenal IQ, SQ, tapi kalau dari pengalaman saya. Saya melihat karyawan-karyawan saya itu sebenarnya mereka jika ingin kariernya naik, mereka harus meningkatkan PQ (Promotable Quotient). Salah satu yang paling gampang, adalah kita itu harus suka dulu dengan apa yang kita kerjakan. In reality, nyari kerja itu susah. Tapi kalau memang belum bisa menyukai pekerjaan kita, kita kerjakan dulu kerjaan, pulang kantor, kita kerjakan apa yang disuka. Sebaiknya kita kerja sesuatu yang kita suka," papar Yoris kepada okezone.

Selain itu, Yoris juga memberikan kiat-kiat bagaimana cara agar karier melesat cepat.
"Saya punya pemikiran sendiri, dan saya kasih kiat-kiat, serta ajak sharing. Seperti, bagaimana caranya di promote lebih cepat," tukas pria yang pernah menjabat sebagai General Manager Hard Rock Cafe Indonesia ini.

Selain itu, Caring Colours juga ingin membentuk sebuah komunitas para wanita professional melalui website www.caringcolours.com. Melalui situs ini, mereka bisa bertanya kepada narasumber mengenai masalah karier, keuangan, dan kecantikan.(nsa)

sumber : okezone.com

Kamis, 25 Maret 2010

Etnik,,, Tren 2010...


GAYA etnik masih menjadi kunci tren busana pada 2010. Terlihat dari berbagai sentuhan eksotis yang menjadi pilihan para desainer, baik perancang internasional maupun lokal. Seperti apa?

Dari berbagai pergelaran yang digelar, baik pekan mode internasional maupun koleksi milik para desainer lokal, dapat ditarik satu kesimpulan. Sepanjang 2010, busana berelemen etnis tetap akan menjadi kunci untuk tampil up to date. Matthew Williamson misalnya. Desainer yang juga menjabat sebagai Direktur Kreatif rumah mode Emilio Pucci ini menghadirkan koleksi yang terinspirasi gaya bohemian kaum hippies. Nuansa etnis ala gipsi terasa kental mendominasi rancangan Williamson, yang dipertunjukkan di London Fashion Week beberapa waktu lalu.

Koleksi tersebut langsung memberikan kesan etnik di antara koleksi lain yang cenderung bergaya kontemporer. Terutama melalui sentuhan hippie ala Meksiko yang dipadukan dengan combat boots beraksen. Rancangan Williamson rupanya senada dengan koleksi besutan Christopher Kane.

Kane menampilkan gaya eklektik dalam tema ”geek chic” yang memadukan corak floral, detail sequin, serta jubah ala Batman. Unik, bergaya etnis, sekaligus atraktif. Di kesempatan yang sama, Christoper pun tidak ketinggalan menghadirkan nuansa etnik dalam palet lembut yang langsung menjadi incaran fashionista London.

Kesan etnik pun tidak ketinggalan dihadirkan para desainer Indonesia. Mulai dari pergelaran tahunan Trend Show IPMI, Jakarta Fashion Week, serta beragam perhelatan mode yang digelar, sentuhan tradisional dan elemen etnik hadir di sana-sini.

Bukan hanya dari segi penggunaan warna yang mengarah pada palet eksotis, tapi juga ragam material yang digunakan. Kain tradisional Indonesia seperti batik dan tenun tetap merajai panggung pergelaran busana. Lihat saja koleksi para perancang lokal yang tidak jauh-jauh dari nuansa etnis Tanah Air, seperti halnya Carmanita, Sofie, dan Poppy Dharsono.

Untuk tren busana 2010, Poppy mempersembahkan koleksi etnik yang mengeksplorasi kain batik khas Banyumas. Di tangan Poppy, batik unik itu berevolusi menjadi rancangan bergaya kontemporer. Dengan apik, Poppy mengombinasikannya dengan berbagai material lain seperti katun, tulle, organdy silk, dan diolah menjadi rancangan yang lebih elegan.

Seperti halnya Ian, Sofie pun menghadirkan karya etnis dalam kemasan modern. Koleksi bertema ”Gothchic” tersebut rupanya terinspirasi dari sisi gelap ala goth yang dipermanis dengan sentuhan etnik dari kain batik maupun ornamental khas Sofie. Hal itu kemudian dituangkan menjadi koleksi yang bernapaskan etnik kontemporer dalam paduan motif floral, permainan tabrak motif, embroidery, maupun aplikasi dekoratif lainnya.

”Koleksi ini saya tujukan bagi wanita urban yang mapan, mandiri, dan penuh percaya diri,” ujar Sofie. Karena itu, desainer yang memiliki nama lengkap Ahmad Sofiyulloh ini menghadirkan ragam gaya klasik yang dipadu sentuhan folkloris, baik pada blus, terusan pendek, rok selutut, maupun celana jodhpur. Sekali lagi, warna natural jadi pilihan, namun Sofie memberi sentuhan yang berbeda dengan menambahkan palet solid layaknya ungu dan hitam.

Sementara Carmanita memilih gaya rancangan yang lebih unik melalui teknik tie-dye. Carmanita langsung melukisnya dan sebagian dibantu oleh teman-temannya. Palet lembut layaknya ungu, pink, oranye, kuning, biru muda, dan merah marun, menjadi pilihan Carmanita. Meskipun bernuansa etnis, koleksinya hadir sangat simpel. Carmanita mengakui, seluruh rancangannya hadir tanpa pola.

”Semua rancangan dibuat tanpa patron,” sebutnya. Karenanya, wajar bila blus yang dipadukan dengan celana galembong besutannya tampil natural. Pasalnya, setiap koleksinya dibuat dari selembar kain yang tidak dipotong ataupun dijahit. Hanya dililitkan begitu saja dengan bantuan peniti atau jahitan sederhana. Feminin, kasual, dan tentu saja etnik.

(Koran SI/Koran SI/tty)
sumber : okezone.com

Tak Merokok, Rahasia Awet Muda Cindy Crawford


SEMUA orang setuju jika mantan supermodel Cindy Crawford selalu terlihat awet muda di usianya yang kepala empat. Usut punya usut, ternyata wanita yang terkenal dengan tahi lalat di atas bibirnya itu selalu merawat kecantikan kulitnya sejak masa muda.

Untuk menjaga kecantikannya, ratu catwalk ini mengklaim tidak pernah merokok dan memastikan bahwa dia tidak menghabiskan terlalu banyak waktu berjemur ketika masih muda.

"Saya merasa semua hal yang saya lakukan selama bertahun-tahun telah terbayar saat ini. Saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah berjemur di bawah matahari, dan saya mulai merawat kulit sejak usia dini. Saya sangat bahagia dengan penampilan wajahku," ungkapnya yang dikutip dari Zimbio, Kamis (25/3/2010).

Selain menjaga kecantikan, model yang pernah menjadi model sampul depan ratusan majalah itu sadar betul dengan kesehatannya. Tak heran bila mantan istri Richard Gere itu selalu bekerja keras untuk menjaga kesehatannya.

"Saya telah berusia 44 tahun, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan di masa depan. Tapi saya sudah melihat ketika kehilangan sedikit berat badan, wajah saya tampak kurus, seperti ditarik, dan terlihat lelah," pungkasnya.(nsa)

sumber : okezone.com

Selasa, 23 Maret 2010

Desainer Inggris Terpikat Batik Solo


LIMA perancang busana dari Inggris yang menjadi finalis acara UK Young Fashion Entrepreneur (UKYFE) mendalami ragam kain batik Solo untuk kemungkinan mereka gunakan. Rombongan British Council ini mengunjungi sentra batik Solo, seperti Pasar Klewer, Kampoeng Batik Kaoeman, serta museum Batik Wuryaningratan.

Kelima finalis UKYFE tersebut adalah Imran Amed, Justin Smith, May Cortezzi, Sarah Elenany, serta Susi Henson. Selama dua hari, Minggu-Senin (21-22/3) mereka bersama tim dari British Council berada di Solo, setelah sebelumnya juga mengunjungi Jakarta dan Bandung.

Menurut Media Relations Officer British Council, Gusni Puspitasari, lima orang tersebut merupakan finalis dari kompetisi yang diikuti oleh 10 negara dengan sembilan kategori berbeda. Mereka berasal dari United Kingdom, Inggris.

”Mereka ingin melihat potensi industri kreatif bidang fesyen di Indonesia,” ungkapnya, sembari menuturkan bahwa Indonesia pernah lima kali memenangi kontes ini.

Dia menerangkan, dari kunjungan ini diharapkan bisa terbangun sebuah kolaborasi membentuk bisnis di bidang fesyen antara pebisnis Indonesia dengan UK.

”Target kita juga untuk memperlihatkan kekuatan industri kreatif. Untuk Solo kan kaya kreativitas terutama batik, ada lebih dari 30.000 motif,” sebutnya.

Branding sebagai kota batik inilah yang kemudian mendorong rombongan memilih Solo dibandingkan daerah-daerah lain.

”Sebenarnya kita ingin bisa mengunjungi semua kota, tapi waktu kita sangat terbatas, hanya satu minggu. Sebelumnya mereka telah mengunjungi pusat retail Tanah Abang Jakarta, dan Bandung,” bebernya.

Gusni menuturkan, kunjungan ke Solo mendapat dukungan dari pemerintah kota setempat. Bahkan, rombongan sempat mendapat jamuan makan malam bersama Wali Kota Solo Joko Widodo, Minggu (21/3) malam. Pada kesempatan itu, rombongan juga disuguhi aneka produk batik dan usaha kecil menengah (UKM) lainnya.
(Fefy Dwi Haryanto/Koran SI/tty)

sumber : okezone.com